By : Dani Prayogo_161510601190_G5
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pisang (Musaa spp.) merupakan tanaman buah berbentuk herba berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Indonesia, pisang merupakan salah satu buah yang sangat populer di masyarakat karena mudah ditemukan dan tersedia dalam berbagai jenis, disamping harganya yang sangat terjangkau dan nilai gizinya yang sangat lengkap. Budidaya buah pisang saat ini tidak hanya dilakukan secara sederhana hanya di pekarangan/kebun rumah, tetapi telah dilakukan secara intensif terutama pisang untuk keperluan ekspor. Menurut Prihatman (2000), pisang dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan jenis dan pemanfaatannya yakni: 1) pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis, misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendis, barangan dan mas; 2) pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis, misalnya pisang nagka, tanduk, dan kepok; 3) pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya, misalnya pisang batu dan klutuk; 4) pisang yang diambil seratnya misal pisang manila. Untuk mengetahui sejauh mana prospek komoditas pisang dalam mendukung sektor pertanian di Indonesia, maka perlu dilakukan kajian mengenai Outlook Komoditas Pisang ini.
Tanaman pisang merupakan salah satu penghasil buah dengan luasan areal paling luas di Indonesia yang mendapat prioritas untuk dikembangkan secara intensif. Komoditas pisang di Indonesia memiliki nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 triliun dalam waktu setahun (Kementrian Pertanian 2014). Kebijakan pengembangan pisang dilakukan oleh pemerintah pusat atau desa sebagai upaya pemberdayaan tanaman lokal sebagai komoditas komersial, sehingga masih berfokus pada pengembangan produksi pisang dan pengembangan usaha agribisnis pisang terutama pemberian fasilitas kredit usaha tani di skala keluarga petani. Pengembangan ini terdiri dari dua strategi yaitu pengembangan usaha agribisnis skala kecil dan skala kebun yang berdaya saing (Kementrian Pertanian 2014). Dengan kata lain, komoditas pisang ini dapat menjadi sebuah jaminan ekonomi bagi petani pisang.
Perkembangan Luas Panen, Produksi, Dan Produktivitas Pisang Di Indonesia
Perkembangan Luas Panen Pisang Di Indonesia
Perkembangan luas panen pisang di Indonesia selama periode tahun 1980-2015 berfluktuatif (Gambar 3.1). Pada tahun 1980, luas panen pisang di Indonesia hampir mencapai 157 ribu ha, kemudian pada tahun 2015 turun menjadi 94 ribu ha atau hampir berkurang 6 ribu ha . Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 1992 yakni menurun drastis sebesar 43,33% dibandingkan tahun 1991. Sebaliknya pertumbuhan luas panen tertinggi tercatat pada tahun 2017 yang mencapai 59,36% dibanding tahun sebelumnya. Dilihat dari perkembangan periode 1980-2010, memperlihatkan pertumbuhan yang cenderung datar sebesar 0,21% per tahun, sedangkan pada periode 2011-2015 memperlihatkan penurunan sebesar 1,43% per tahun. Secara keseluruhan perkembangan luas panen pisang di Indonesia tahun 1980-2015 mengalami penurunan sebesar 0,02% per tahun

Perkembangan luas panen pisang di Luar Jawa lebih fluktuatif dibandingkan di Jawa, namun perkembangannya cenderung sama untuk pertumbuhan luas panen di Luar Jawa, yakni sekitar 0,54% per tahun untuk periode 1980-2015, 0,58% per tahun pada tahun 1980-2010 dan lima periode terakhir (2011-2015) hanya 0,32% per tahun. (Gambar 3.1). Sementara itu pertumbuhan luas panen pisang di Jawa lebih berfluktuatif antar periode, secara umum pertumbuhan hanya berkisar pada angka 0,63% per tahun (1980- 2015), sedangkan pertumbuhan pada periode 1980-2010 meningkat 1,98% per tahun, namun mengalami penurunan sebesar 2,64% per tahun di periode berikutnya yakni 2011-2015. Perkembangan luas panen pisang di Indonesia disajikan secara rinci pada tabel berikut.
Tabel Rata-rata Pertumbuhan dan Kontribusi Luas Panen Pisang diIndonesia Tahun 1980-2015

Kontribusi luas panen pisang di Jawa dan Luar Jawa relatif sama terhadap luas panen pisang di Indonesia. Kontribusi luas panen di Jawa selalu lebih besar dikisaran 50% dibanding kontribusi yang berasal dari Luar Jawa yang berada pada kisaran 45%.
Perkembangan Luas Panen Pisang Di Indonesia
Seperti halnya pada perkembangan luas panen, perkembangan produksi
pisang di Indonesia pada periode 1980-2015 juga berfluktuasi namun memiliki tren yang menggembirakan karena bernilai positif (Gambar 3.2). Rata-rata pertumbuhan pada kurun waktu tersebut sebesar 4,16% per tahun. Selama tahun 1980-2010 rata-rata pertumbuhan produksi pisang naik sebesar 4,04% per tahun sedangkan selama 2011-2015 rata-rata pertumbuhannya lebih besar 4,92% per tahun. Pada tahun 1980 total produksi pisang di Indonesia sebesar 1,9 juta ton dan pada tahun 2015 naik secara signifikan mencapai 7,3 juta ton, dimana pertumbuhan produksi pisang tertinggi dicapai pada tahun 1995 yaitu sebesar 23,29% dan terendah pada tahun berikutnya yaitu tahun 1996 yang mengalami penurunan menjadi 20,55%.
Bila dilihat perkembangan produksi pisang seperti tampak pada Gambar
3.2, maka produksi di Jawa lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa. Namun jika dilihat dari rata-rata pertumbuhannya, untuk tiap periode yang sama, pertumbuhan produksi pisang di Luar Jawa lebih tinggi dibandingkan di Jawa. Perkembangan produksi pisang di Indonesia secara rinci pada tabel
Tebel rata-rata Pertumbuhan dan Kontribusi Produksi Pisang di Indonesia Tahun 1980-2015

Kontribusi produksi pisang di Jawa lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa, hal ini sama seperti pada luas panen. Pada periode 1980-2010, produksi pisang di Jawa memberikan kontribusi sebesar 61,91% terhadap total produksi nasional, sementara di Luar Jawa hanya memberikan kontribusi sebesar 38,09%. Namun pada periode berikutnya (2011-2015), kontribusi Luar Jawa meningkat menjadi 45,93% sedangkan proporsi Jawa menjadi mengecil hanya 54,07%.
Perkembangan Produktivitas Pisang Di Indonesia
Ditinjau dari sisi produktivitas, untuk komoditas pisang di Indonesia selama kurun waktu 1980-2015 cenderung berfluktuasi (Gambar 3.3) dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,58% per tahun. Pada tahun 1980 produktivitas pisang di Indonesia mencapai 12,53 ton/ha kemudian naik pada tahun 2015 menjadi 77,64 ton/ha. Peningkatan produktivitas pisang tertinggi dicapai pada tahun 1992 dengan pertumbuhan sebesar 89,29% terhadap tahun 1991 atau naik dari 18,30 ton/ha menjadi 34,64 ton/ha. Sebaliknya, penurunan produktivitas pisang terendah terjadi pada tahun 1997 yang mencapai 36,54% dibandingkan tahun 1996, semula 61,68 ton/ha turun jadi 39,14 ton/ha.
Produktivitas pisang di Pulau Jawa umumnya lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa. Hal tersebut dimungkinkan karena beberapa hal seperti adanya perbedaan kesuburan tanah dan ketersediaan sarana produksi termasuk teknologi dan informasi pisangnik budidaya yang relatif lebih mudah dan lebih murah di Pulau Jawa. Perkembangan produktivitas pisang di Jawa, Luar Jawa, dan Indonesia tersaji secara lengkap pada tabel
DAFTAR PUSTAKA
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pertanian Sub Sektor Hortikultura.Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.