DIVERSIFIKASI BUAH PISANG

By : Mohammad Dwiko Ramadhani_171510601071_G5

            Buah pisang yang selesai dipanen tidak serta-merta hanya dijual dipasar-pasar yang ada. Adanya diversifikasi hasil produk olahan saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan. Diversifikasi produk atau pengembangan produk adalah salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pengolah melalui berbagai macam cara pengolahan dengan mengubah bentuk fisik bahan menjadi bentuk spesifik atau berbeda sehingga menjadi nilai tambah. Produk bisa disebut sebagai produk bernilai tambah karena melalui cara lain seperti perbaikan kemasan, bentuk, rasa, warna, aroma, suatu produk juga bisa dikatakan memiliki nilai tambah. Diversifikasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan, selera, dan permintaan konsumen terhadap suatu produk. Pisang adalah salah satu komoditas yang sering dilakukan diversifikasi hasil olahannya.

Umumnya hasil produk olahan buah pisang yang sering kita jumpai adalah dijadikan keripik, brownies, cake pisang kukus, banana nugget, pie pisang dan masih banyak hasil olahan buah pisang lainnya.

Produk Olahan Buah Pisang

            Berikut beberapa produk olahan yang berbahan dasar buah pisang yang sering kita jumpai di toko-toko dan pusat oleh-oleh beserta cara pembuatannya :

  1. Keripik Pisang :
  2. Kupas semua kulit pisang lalu iris tipis seperti logam koin
  3. Siapkan wadah bersih, lalu tuang air ke dalamnya
  4. Masukkan kapur sirih, aduk hingga tercampur rata
  5. Masukkan pisang yang sudah diiris tipis ke dalamnya. Rendam selama kurang lebih 1 jam
  6. Siapkan wadah bersih lainnya
  7. Tiriskan pisang, taruh pada wadah lalu taburi garam. Aduk sampai rata
  8. Siapkan penggorengan dengan api sedang. Biarkan hingga minyak panas
  9. Goreng pisang hingga coklat keemasan. Angkat dan tiriskan
  10. Keripik pisang siap disajikan dan dikemas
  • Bolu Pisang :
  • Lumatkan pisang dengan garpu. Tidak perlu sampai halus untuk mempertahankan tekstur.
  • Kocok telur dan gula hingga mengembang. Masukan pisang lumat ke dalam kocokan telur, tambahkan minyak goreng, dan aduk hingga tercampur rata.
  • Ayak tepung terigu, soda kue, baking powder, bubuk vanili, dan garam. Masukkan sedikit demi sedikit ke dalam adonan telur dan pisang.
  • Aduk lipat dengan spatula seperti mengaduk adonan semen agar hasil akhir kue tidak bantat.
  • Siapkan loyang yang sudah dioles minyak goreng. Tuang adonan ke dalam loyang, kemudian ketuk-ketuk agar permukaannya rata.
  • Siapkan kukusan yang sudah dipanaskan, kemudian masak adonan bolu pisang dengan api sedang selama 30 menit. Bungkus penutup kukusan dengan kain agar uap air tidak menetes ke adonan kue.
  • Tusuk kue dengan lidi untuk memastikan kematangannya. Jika sudah benar-benar matang, angkat dari kukusan dan tunggu sampai mendingin.
  • Keluarkan bolu pisang dari loyang. Taburi gula halus, kemudian sajikan utuh atau dalam keadaan terpotong-potong.
  • Nugget Pisang :
  • Cincang kasar pisang, tidak perlu halus agar terasa tekstur pisangnya.
  • Masukkan gula pasir, tepung, susu bubuk, telur, dan garam, ke dalam adonan pisang, aduk rata dengan sendok.
  • Masukkan dalam loyang yang sudah dialasi plastik, supaya mudah mengeluarkan saat sudah matang.
  • Kukus adonan selama 15-20 menit.
  • Setelah dirasa cukup padat, angkat dan dinginkan sebelum dipotong.
  • Potong-potong nugget sesuai selera, tebal sekitar 1 cm.
  • Campur adonan balutan kecuali tepung roti, tidak terlalu encer dan tidak terlalu kental (seperti adonan tepung pisang goreng biasa).
  • Celupkan nugget ke dalam adonan tepung balutan, lalu gulingkan di tepung panir.
  • Goreng dengan api sedang hingga kuning keemasan, sajikan dengan topping sesuai selera.

SELAMAT MENCOBA

DAFTAR PUSTAKA

Suyanti dan A. Supriyadi. 2008. Pisang, Budidaya, Pengolahan, dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya : Depok

PENGENALAN PISANG

By : Dina Roffida Haqqi D_171510601074_G5

Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasukIndonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), AmerikaSelatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengahdan Jawa Timur dinamakan gedang. Klasifikasi botani tanaman pisang adalahsebagai berikut:

Divisi                      : Spermatophyta

Sub divisi             : Angiospermae

Kelas                     : Monocotyledonae

Keluarga              : Musaceae

Genus                  : Musa

Spesies                                 : Musa spp.

A. Pisang Barangan

  • Tinggi pohon : 2,5- 3,5 m
  • Waktu muncul buah : 11-13bulan (3-4 bulan buah matang)
  • Jumlah sisir pertandan : 8-12sisir
  • Warna buah matang : kuning (sedikit berbintik-bintik)
  • Warna daging buah : kuning hingga jingga

B. Pisang Cavendish

  • Tinggi pohon : 1,6- 2 m (Grand Nain) dan 2-3,5 (Siger)
  • Waktu muncul buah : 9-12 bulan (3-4 bulan buah matang)
  • Jumlah sisir pertandan : 9-15 sisir
  • Warna buah matang : kuning kehijauan
  • Warna daging buah : kuning

C. Pisang Mas Kirana

  • Tinggi pohon : 2-3,5 m
  • Waktu muncul buah : 11-12 bulan (3-4 bulan buah matang)
  • Jumlah sisir pertandan : 7-10 sisir
  • Warna buah matang : kuning kehijauan
  • Warna daging buah : kuning

D. Pisang Raja Bulu

  • Tinggi pohon : 3-4 m
  • Waktu muncul buah : 11-13 bulan (3-4 bulan buah matang)
  • Jumlah sisir pertandan : 6-8 sisir
  • Warna buah matang : kuning kehijauan
  • Warna daging buah : kuning

E. Pisang Raja Sere

  • Tinggi pohon : 3-4 m
  • Waktu muncul buah : 11-13 bulan (3-4 bulan buah matang)
  • Jumlah sisir pertandan : 6-9 sisir
  • Warna buah matang : kuning sedikit berbintik
  • Warna daging buah : kuning

DAFTAR PUSTAKA

Tim. 2008. Petunjuk Teknis Budidaya Pisang Asal Kultur In Vitro dengan Teknologi PPBBI. Jakarta : Pusat Unggulan IPTEK.

CARA SUKSES BUDIDAYA PISANG RAJA

By: Putri Nur Aini_161510601033_G5

Tanaman Pisang merupakan salah satu tanaman buah yang sangat sering kita jumpai di Indonesia, buah pisang juga dapat dikatakan sebagai buah yang mimiliki berbagai jenis untuk dapat dikonsumsi, sehingga buah pisang menjadi salah satu buah yang disukai oleh banyak orang. Hal ini dapat kita lihat secara langsung apalagi kita berada di daerah pedesaan, tanaman ini memiliki banyak jenis yang bermacam-macam. Jenis pisang yang biasanya dimakan dengan rasa yang enak tanpa harus kita olah adalah pisang raja, dengan warnanya yang kuning saat masak, pisang ini akan membuat orang sangat tergoda untuk memakannya.

Sumber Gambar pleisbilongtumi.wordpress.com

Terdapat berbagai pertanyaan yang sering bermunculan, seperti berikut ini. Bagaimana cara membudidayakan pisang raja yang berkualitas agar dapat berbuah lebat? dan Apakah pembudidayaan pisang raja sulit? Kita tahu bahwa buah pisang raja sangatlah disukai oleh banyak orang dikarena mempunyai rasa yang lebih manis dan enak dengan tekstur yang pulen. Berbagai manfaat juga dapat diperoleh dari adanya pisang raja ini, yaitu selain dapat dimakan begitu saja, buah pisang juga dapat dijadikan sebagai jus ataupun selai. Maka tak heran jika harga buah pisang ini menjadi cukup mahal dibandingkan dengan buah-buah pisang yang lainnya.

Menurut Suyanti dan Supriyadi (2008), proses budidaya tanaman pisang, ada beberapa langkah yang harus dilakukan agar pisang dapat memberikan hasil yang optimal, yaitu:

  1. Pemilihan Bibit Unggul Tanaman Pisang

Bibit pisang yang digunakan untuk budidaya haruslah berasal dari varietas yang unggul, hal ini bertujuan untuk mendukung proses pertumbuhan sehingga hasilnya akan lebih terjamin. Bibit pisang itu sendiri dapat diperoleh dengan berbagai cara seperti memperolehnya secara langsung (pribadi) ataupun dapat memperolehnya di toko tanaman. Pembibitkan pohon pisang yang dilakukan secara langsung, dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:

  1. Ambilah anak pisang yang berasal dari tanaman induknya dalam kondisi yang sehat, yang berbuah banyak, dan memiliki ukuran buah yang cukup besar.
  2. Pisahkan anakan yang telah berukuran setinggi kurang lebih 1-1,5 m yang mempunyai sistem perakaran lebih dari 20 cm.

Proses pemilihan bibit unggul dalam budidaya pisang raja merupakan salah satu tahapan yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, sehingga mampu menghasilkan kualitas dari pisang raja yang terbaik.

  1. Penanaman Bibit Tanaman Pisang

Penanaman bibit pisang harus dilakukan dengan langkah yang sesuai, dimana anak pisang yang sebelumnya sudah di pisahkan dari tanaman induk, sebaiknya dilakukan penanaman sesegera mungkin. Proses tersebut dapat dilakukan sebagai berikut:

  1. Masukkan bagian dasar dari bibit unggul tersebut ke dalam lubang penanaman. Buatlah lubang tanaman pisang dengan ukuran sekitar 50 x 50 cm dan kedalamannya mencapai 50 cm.
  2. Tutup kembali dengan tanah yang ada di sekitarnya.
  3. Lalu berikan tekanan sedikit pada tanah yang sudah dilubangi agar nanti pohon pisang dapat berdiri tegak.
  4. Langkah selanjutnya apabila kondisi cuacanya sedang buruk, kita dapat memasangkan penyangga dari bambu agar dapat menahan posisi pohon pisang sehingga tidak rubuh apabila diterpa angin.
  5. Kemudian, saat akan menanamnya lubang pohon yang sudah digali diberi pupuk kompos dengan takaran kurang lebih 10-20 kg. Pemberian pupuk ini bertujuan terhadap rasa dan ukuran dari pisang raja yang akan dipanen.

Hasil panen yang baik akan diperoleh apabila tanaman pisang tersebut  mendapatkan nutrisi yang baik pula. Jadi, saat akan dimulai proses penanaman maka diusahakan melakukan control terhadap kadar airnya terutama pada saat menjelang musim hujan supaya tercukupi. Hal lainnya juga, yaitu pada saat penanamnya, dimana lubang pohon yang telah di gali hendaknya diberi pupuk kompos dengan takaran yang sesuai. Pemberian pupuk ini sangatlah penting karena hal ini akan berpengaruh pada rasa dan ukuran dari pisang raja yang akan dihasilkan.

  1. Pemelihara Tanaman Pisang

Pemeliharaan tanaman pisang dilakukan agar dapat menghasikan kualitas pisang yang terbaik. Pemeliharaan ini bertujuan untuk menghindarkan tanamn pisang dari hama dan penyakit, serta berbagai macam halangan yang ada. Pemeliharaan ini sering menjadi kendala bagi para petani untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas.

Tanaman pisang dalam pemeliharaannya tidaklah terlalu rumit. Bahkan tanaman pisang tetap dapat tumbuh dengan baik meskipun tanpa pemeliharaan sama sekali asalkan kebutuhan air dan nutrisinya tercukupi. Namun, apabila seorang pengusaha ingin memperoleh hasil tanaman pisang yang berlimpah, maka perlu adanya perawatan terhadap buah pisang itu sendiri. Perawatan tersebut yaitu mulai dari memastikan tidak ada rumput yang tumbuh di sekitar tanaman pisang. Pembersihan rumput-rumput tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan sabit yang bisa kita lakukan selama kurang lebih 2 minggu sekali apabila rumput disekitar pohon pisang mulai tebal. Rumput-rumput yang telah dibersihkan dari pohon pisang ini pun nantinya dapat di olah menjadi pupuk kompos yang dapat digunakan untuk tanaman pisang tersebut. Pemupukan susulan juga harus selalu diperhatikan agar dapat memastikan pohon pisang yang akan kita budidayakan dapat memperoleh nutrisi yang dibutuhkannya dan juga pastikan bahwa tanaman pisang ini tidak terkena serangan hama atau penyakit lainnya, serta batasi jumlah anakan yang dihasilkan oleh setiap tanaman induk agar nantinya pertumbuhan terpusat pada pembentukan buah.

Sumber: panoramio.com

Setelah mengetahui akan proses tahapan dalam menghasilkan budidaya pisang raja berkualitas dengan panen terbaik dan menguntungkan. Terdapat beberapa tips sukses yang akan dibagikan untuk digunakan dalam mendapatkan keuntungan hasil panen pisang yang lebih berlimpah, yaitu sebagai berikut. Pertama, pilihlah pupuk terbaik yang mampu menghasilkan kualitas panen yang menguntungkan. Kedua, pilih tempat penjualan yang sekiranya mampu menjual pisang tanpa harus busuk dan cacat, langkah ini harus diperhatikan dengan sangat baik. Ketiga, berikan rasa dan ukuran bentuk buah pisang yang manis dan besar.

 

 

SEMOGA BERMANFAAT J

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Suyanti., dan A. Supriyadi. 2008. Pisang Budi Daya, Pengolahan, dan Prospek Pasar. Jakarta: Niaga Swadaya.

SEJARAH PERSEBARAN PISANG

By :  Mochammad Dimas Aji Permana/171510601127/G5

Sejarah Persebaran Buah Pisang

Pisang mengalami perjalanan dan sejarah panjang yang dimulai dari hutan di Asia Tenggara hingga menjadi salah satu buah paling populer di dunia. Para ahli berpendapat bahwa buah ini merupakan yang pertama dibudidayakan oleh manusia dan mendahului budidaya padi.

Budidaya pisang diyakini pertama kali dilakukan di dataran tinggi Papua Nugini. Bukti tertulis paling awal tentang keberadaan pisang ditemukan dalam tulisan-tulisan Buddhis Pali dari abad ke-6 SM, yang menunjukkan bahwa buah tersebut telah mencapai India saat itu.

Pisang juga disebutkan dalam berbagai kitab-kitab kuno Hindu, Cina, Islam, Yunani, dan Romawi. Pada awalnya, pisang berwarna merah dan hijau. Pisang pada masa kini merupakan hasil mutasi yang dilakukan oleh Jean Francois Poujot pada tahun 1836 di Jamaika.

Pada tahun 327 SM, Alexander Agung dan pasukannya menemukan pisang selama ekspedisi mereka ke wilayah Laut Tengah. Kemudian, dengan bantuan penakluk Islam, pisang mencapai Madagaskar dan Palestina. Pisang kemudian melanjutkan perjalanan melalui pelaut Portugis yang membawa pisang ke Eropa dari Afrika Barat pada awal abad ke-15. Pada tahun 1482, pisang dibawa oleh para penjelajah Portugis ke Canary Island dan Hindia Barat. Penjelajah Portugis dan Spanyol juga berjasa menyebarkan pisang ke kawasan Karibia dan Amerika.

China adalah wilayah pertama yang melakukan budidaya pisang secara terorganisir. Bukti budidaya pisang juga ditemukan di kekaisaran Romawi selama tahun 63-14 SM. Antonio Musa, dokter Kaisar Romawi Octavius Agustinus adalah orang yang mendorong budidaya pisang di kekaisaran Romawi. Orang Amerika Serikat tidak mengenal pisang sampai tahun 1870. Pisang diperkenalkan kepada masyarakat Amerika hampir pada saat bersamaan oleh dua orang yang berbeda yaitu Lorenzo Dow Baker dan Minor Keith.

Lorenzo adalah seorang kapten laut yang berkunjung ke Jamaika dan menjadi tertarik dengan buah kuning yang dijual di pasar. Karena penasaran, dia membeli beberapa tandan pisang mentah dan menjualnya di pasar buah New Jersey.

Pada saat yang sama, Minor Keith, yang membangun jalan kereta api di Kosta Rika, menanam pohon pisang di dekat jalur kereta api. Ketika pembangunan jalan kereta api selesai, pisang yang sudah matang diangkut ke pelabuhan dengan kereta api dan kemudian diekspor ke Amerika. Segera, pisang menjadi makanan populer di Amerika Serikat.

Persebaran Buah Pisang di Indonesia

Pisang merupakan tumbuhan asli AsiaTenggara, yaitu berasal dari SemenanjungMalaysia dan Filipina. Tetapi ada jugayang menyebutkan bahwa pisang berasaldari Brasil dan India. Dari sini kemudianmenyebar hingga ke daerah Pasifik. Buah ini tersusun dalam tandan dengan kelompok-kelompok tersusun menjari, yang disebut sisir.  Hampir semua buah pisang memiliki kulit berwarna kuning ketika matang, meskipun ada beberapa yang berwarna jingga, merah, hijau, ungu, atau bahkan hampir hitam.

Sebagai bahan pangan untuk dikonsumsi, mutu pisang merupakan muara dari sebuah siklus produk (product life cycle) yang dituntut oleh konsumen.  Walaupun belum nampak secara signifikan, mutu buah-buahan Nasional termasuk pisang juga mulai meningkat.  Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya volume buah yang diperdagangkan di supermarket maupun fruit shop.  Walaupun demikian, selama ini produk buah-buahan di Indonesia belum mampu membawa kemakmuran bagi masyarakat, karena produksi buah-buahan tersebut, baik dari segi kualitas maupun produktivitas masih relative rendah.  Padahal secara Internasional komoditas hortikultura, termasuk buah-buahan identik dengan komoditas yang berkualitas tinggi dengan standar mutu tertent.  Komoditas hortikultura, selain harus memenuhi standar kualitas, juga haru diproduksi secara efisien untuk mendapatkan daya saing pasar

Secara umum ada 14 kultivar pisang yang utama ditanam di Indonesia. Pisang Mas, Pisang Ambon Putih, Pisang Ambon Lumut, Pisang Badak, Pisang Lampung, Pisang Raja Sereh dan Pisang Ambon Jepang. Sedangkan pisang untuk olahan adalah Pisang Raja Bulu, Pisang Uli, Pisang Tanduk, Pisang Nangka, Pisang Siem, Pisang Kepok, dan Pisang Kapas.

Penyebaran tanaman ini selanjutnya hampir merata ke seluruh dunia, yakni meliputi daerah tropik dan sub tropik, dimulai dari Asia Tenggara ke Timur melalui Lautan Teduh sampai ke Hawai. Selain itu, tanaman pisang menyebar ke barat melalui Samudra Atlantik, Kepulauan Kenari, sampaiBenua Amerika. Pisang yang dikenal sampai saat ini merupakan keturunan dari spesies pisang liar yaitu Musa Acuminata dan Musa Balbisiana. Pisang kepok memiliki tinggi 370 cm dengan umur berbungan 13 bulan. Batangny berdiameter 31 cm dengan panjang daun 258 cm dan ebar daun 90 cm, sedangkan warna daun serta tulang daun hijau tua. Bentuk jantung spherical atau lanset. Bentuk buah lurus dengan panajng 14 cm dan diameter buah 3,46 cm. Warna kulit dan daging buah matang kuning tua.

Potensiproduksi buah pisang di Indonesia memiliki daerah sebaran yang luas, hampir seluruh wilayah merupakan tempat produksi pisang, ditanam di pekarangan maupun di ladang, dan sebagian telah membudidayakan menjadi sebuah perkebunan. Jenis pisang yang ditanam oleh masyarakat beraneka ragam mulai dari pisang untuk olahan sampai jenis pisang komersial yang bernilai ekonomi yang tinggi. Sentraproduksi pisang di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung. Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara Barat.

Perkembangan Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Pisang Di Indonesia

By : Dani Prayogo_161510601190_G5

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pisang (Musaa spp.) merupakan tanaman buah berbentuk herba berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Indonesia, pisang merupakan salah satu buah yang sangat populer di masyarakat karena mudah ditemukan dan tersedia dalam berbagai jenis, disamping harganya yang sangat terjangkau dan nilai gizinya yang sangat lengkap. Budidaya buah pisang saat ini tidak hanya dilakukan secara sederhana hanya di pekarangan/kebun rumah, tetapi telah dilakukan secara intensif terutama pisang untuk keperluan ekspor. Menurut Prihatman (2000), pisang dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan jenis dan pemanfaatannya yakni: 1) pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis, misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendis, barangan dan mas; 2) pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis, misalnya pisang nagka, tanduk, dan kepok; 3) pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya, misalnya pisang batu dan klutuk; 4) pisang yang diambil seratnya misal pisang manila. Untuk mengetahui sejauh mana prospek komoditas pisang dalam mendukung sektor pertanian di Indonesia, maka perlu dilakukan kajian mengenai Outlook Komoditas Pisang ini.

 

Tanaman pisang merupakan salah satu penghasil buah dengan luasan areal paling luas di Indonesia yang mendapat prioritas untuk dikembangkan secara intensif. Komoditas pisang di Indonesia memiliki nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 triliun dalam waktu setahun (Kementrian Pertanian 2014). Kebijakan pengembangan pisang dilakukan oleh pemerintah pusat atau desa sebagai upaya pemberdayaan tanaman lokal sebagai komoditas komersial, sehingga masih berfokus pada pengembangan produksi pisang dan pengembangan usaha agribisnis pisang terutama pemberian fasilitas kredit usaha tani di skala keluarga petani. Pengembangan ini terdiri dari dua strategi yaitu pengembangan usaha agribisnis skala kecil dan skala kebun yang berdaya saing (Kementrian Pertanian 2014). Dengan kata lain, komoditas pisang ini dapat menjadi sebuah jaminan ekonomi bagi petani pisang.

 

Perkembangan Luas Panen, Produksi, Dan Produktivitas Pisang Di Indonesia

 

Perkembangan Luas Panen Pisang Di Indonesia

Perkembangan luas panen pisang di Indonesia selama periode tahun 1980-2015 berfluktuatif (Gambar 3.1). Pada tahun 1980, luas panen pisang di Indonesia hampir mencapai 157 ribu ha, kemudian pada tahun 2015 turun menjadi 94 ribu ha atau hampir berkurang 6 ribu ha . Pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 1992 yakni menurun drastis sebesar 43,33% dibandingkan tahun 1991. Sebaliknya pertumbuhan luas panen tertinggi tercatat pada tahun 2017 yang mencapai 59,36% dibanding tahun sebelumnya. Dilihat dari perkembangan periode 1980-2010, memperlihatkan pertumbuhan yang cenderung datar sebesar 0,21% per tahun, sedangkan pada periode 2011-2015 memperlihatkan penurunan sebesar 1,43% per tahun. Secara keseluruhan perkembangan luas panen pisang di Indonesia tahun 1980-2015 mengalami penurunan sebesar 0,02% per tahun

Untitled

 

Perkembangan luas panen pisang di Luar Jawa lebih fluktuatif dibandingkan di Jawa, namun perkembangannya cenderung sama untuk pertumbuhan luas panen di Luar Jawa, yakni sekitar 0,54% per tahun untuk periode 1980-2015, 0,58% per tahun pada tahun 1980-2010 dan lima periode terakhir (2011-2015) hanya 0,32% per tahun. (Gambar 3.1). Sementara itu pertumbuhan luas panen pisang di Jawa lebih berfluktuatif antar periode, secara umum pertumbuhan hanya berkisar pada angka 0,63% per tahun (1980- 2015), sedangkan pertumbuhan pada periode 1980-2010 meningkat 1,98% per tahun, namun mengalami penurunan sebesar 2,64% per tahun di periode berikutnya yakni 2011-2015. Perkembangan luas panen pisang di Indonesia disajikan secara rinci pada tabel berikut.

Tabel Rata-rata Pertumbuhan dan Kontribusi Luas Panen Pisang diIndonesia Tahun 1980-2015

Untitledde.png

Kontribusi luas panen pisang di Jawa dan Luar Jawa relatif sama terhadap luas panen pisang di Indonesia. Kontribusi luas panen di Jawa selalu lebih besar dikisaran 50% dibanding kontribusi yang berasal dari Luar Jawa yang berada pada kisaran 45%.

 

Perkembangan Luas Panen Pisang Di Indonesia

Seperti halnya pada perkembangan luas panen, perkembangan produksi

pisang di Indonesia pada periode 1980-2015 juga berfluktuasi namun memiliki tren yang menggembirakan karena bernilai positif (Gambar 3.2). Rata-rata pertumbuhan pada kurun waktu tersebut sebesar 4,16% per tahun. Selama tahun 1980-2010 rata-rata pertumbuhan produksi pisang naik sebesar 4,04% per tahun sedangkan selama 2011-2015 rata-rata pertumbuhannya lebih besar 4,92% per tahun. Pada tahun 1980 total produksi pisang di Indonesia sebesar 1,9 juta ton dan pada tahun 2015 naik secara signifikan mencapai 7,3 juta ton, dimana pertumbuhan produksi pisang tertinggi dicapai pada tahun 1995 yaitu sebesar 23,29% dan terendah pada tahun berikutnya yaitu tahun 1996 yang mengalami penurunan menjadi 20,55%.

Bila dilihat perkembangan produksi pisang seperti tampak pada Gambar

3.2, maka produksi di Jawa lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa. Namun jika dilihat dari rata-rata pertumbuhannya, untuk tiap periode yang sama, pertumbuhan produksi pisang di Luar Jawa lebih tinggi dibandingkan di Jawa. Perkembangan produksi pisang di Indonesia secara rinci pada tabel

Tebel rata-rata Pertumbuhan dan Kontribusi Produksi Pisang di Indonesia Tahun 1980-2015

Untitleddededa.jpg

Kontribusi produksi pisang di Jawa lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa, hal ini sama seperti pada luas panen. Pada periode 1980-2010, produksi pisang di Jawa memberikan kontribusi sebesar 61,91% terhadap total produksi nasional, sementara di Luar Jawa hanya memberikan kontribusi sebesar 38,09%. Namun pada periode berikutnya (2011-2015), kontribusi Luar Jawa meningkat menjadi 45,93% sedangkan proporsi Jawa menjadi mengecil hanya 54,07%.

 

Perkembangan Produktivitas Pisang Di Indonesia

Ditinjau dari sisi produktivitas, untuk komoditas pisang di Indonesia selama kurun waktu 1980-2015 cenderung berfluktuasi (Gambar 3.3) dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 6,58% per tahun. Pada tahun 1980 produktivitas pisang di Indonesia mencapai 12,53 ton/ha kemudian naik pada tahun 2015 menjadi 77,64 ton/ha. Peningkatan produktivitas pisang tertinggi dicapai pada tahun 1992 dengan pertumbuhan sebesar 89,29% terhadap tahun 1991 atau naik dari 18,30 ton/ha menjadi 34,64 ton/ha. Sebaliknya, penurunan produktivitas pisang terendah terjadi pada tahun 1997 yang mencapai 36,54% dibandingkan tahun 1996, semula 61,68 ton/ha turun jadi 39,14 ton/ha.

Produktivitas pisang di Pulau Jawa umumnya lebih tinggi dibandingkan di Luar Jawa. Hal tersebut dimungkinkan karena beberapa hal seperti adanya perbedaan kesuburan tanah dan ketersediaan sarana produksi termasuk teknologi dan informasi pisangnik budidaya yang relatif lebih mudah dan lebih murah di Pulau Jawa. Perkembangan produktivitas pisang di Jawa, Luar Jawa, dan Indonesia tersaji secara lengkap pada tabel

DAFTAR PUSTAKA

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian. 2016. Outlook Komoditas Pertanian Sub Sektor Hortikultura.Jakarta: Kementerian Pertanian Republik Indonesia.